• Sab. Feb 24th, 2024

DKP Sumut Di Pangururan, Selidiki Penyebab Ratusan Ton Ikan Mati

Byabed nego panjaitan

Okt 25, 2020

Penulis : WH Butar-butar

Simalungun, PERISTIWAINDONESIA.com |

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) provinsi Sumatera Utara (Sumut) menurunkan tim ke Pangururan untuk menyelidiki penyebab matinya ratusan ton ikan di keramba jaring apung milik masyarakat Desa Siogung-ogung dan Desa Tanjung Bunga Kecamatan Pangururan, Kabupatean Samosir, Sabtu (24/10/2020)

“Badasarkan laporan dari petugas atau tim yang turunkan ke lokasi, bahwa penyebab kematian ratusan ton ikan tersebut akibat menurunnya kualitas air dilokasi keramba jaring apung. Selain itu, tim juga masih mendalami penyebab kematian ratusan ton ikan secara mendadak itu,” ujar Kepala DKP propinsi Sumatera Utara Mulyadi Simatupang melalui sambungan selulernya, Minggu (25/10/2020).

Mulyadi mengatakan, DKP Sumut juga masih terus mencari tahu penyebab kematian ikan dalam keramba jaring apung milik masyarakat itu, meski hasil dugaan sementara akibat dampak kualitas air yang buruk.

Kendati begitu, untuk memastikan penyebab kematian ratusan ton ikan tersebut, tim juga sudah mengambil sempel air dan sempel ikan yang masih hidup dari beberapa titik dari lokasi matinya ratusan ton ikan.

“Selanjutnya sampel tersebut akan dibawa ke UPT Laboratorium Pembinaan Mutu Hasil Perikanan Belawan, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui penyebab kematian massal ikan. Untuk memastikan penyebabnya, maka kita tunggu hasil uji laboratorium satu minggu ke depan,” pungkasnya.

Agar tidak terulang, Mulyadi Simatupang menghimbau pengusah budidaya ikan atau pemilik keramba jaring apung supaya menerapkan cara budi daya ikan yang baik. Misalnya mengikuti aturan yang telah di atur dalam berbagai regulasi, diantaranya tertuang dalam Peraturan Presiden No 81 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya.

Sementara itu, Kasi Pembinaan dan Pengembangan Budidaya Ikan DKP Sumut Dwie Retno Wulan didampingi Ervin Siregar dan Sri Ismiati Sembiring menjelaskan hasil monitoring dan investigasi sementara di lapangan menemukan air berwarna kecoklatan

“Sesuai hasil investigasi di lapangan, setidaknya ada 3 (tiga) dugaan sementara penyebab kematian massal ikan tersebut, yakni terjadinya penurunan suplai oksigen bagi ikan, kepadatan ikan dalam keramba jaring apung dan lokasi keramba jaring apung terlalu dangkal sementara dasar perairan berlumpur.

Dijelaskannya, turunnya suplai oksigen disebabkan terjadinya upwelling (umbalan) yang dipicu cuaca yang cukup ekstrim dan berakibat adanya perbedaan suhu yang mencolok antara air permukaan dan suhu air dibawahnya, inilah yang mengakibatkan terjadinya pergerakan masa air dari bawah ke permukaan.

“Cuaca ekstrim telah memicu upwelling. Jadi, pergerakan massa air secara vertical ini membawa nutrient dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan, dan ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang, apalagi lokasi keramba jaring apung terlalu dangkal dan sustratnya berlumpur sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen,” jelas Dwie Retno Wulan (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *