• Home
  • Redaksi
  • Info Iklan
Sabtu, Agustus 22, 2026
  • Login
peristiwaindonesia.com
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nusantara
  • Investigasi
  • Selebritis
  • Sportaiment
  • Kesehatan
  • Suara Buruh
  • Daerah
  • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nusantara
  • Investigasi
  • Selebritis
  • Sportaiment
  • Kesehatan
  • Suara Buruh
  • Daerah
  • Pariwisata
No Result
View All Result
peristiwaindonesia.com
No Result
View All Result
Home Politik

Kasak Kusuk Pilkada Lewat DPRD: Efisiensi atau Jalan Mundur Demokrasi?

abed nego panjaitan by abed nego panjaitan
15 Januari 2026
in Politik
0
Kasak Kusuk Pilkada Lewat DPRD: Efisiensi atau Jalan Mundur Demokrasi?
0
SHARES
10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Saipul Bahri

Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali mencuat ke ruang publik. Media dan lingkup sosial politik mulai menggaungkan gagasan ini yang umumnya menonjolkan argumen efisiensi anggaran, penyederhanaan proses elektoral, serta upaya menekan konflik sosial yang kerap muncul saat Pilkada langsung.

Tidak dapat dipungkiri, Pilkada langsung memang memiliki sisi mahal. Negara menanggung biaya penyelenggaraan, sementara kandidat harus berhadapan dengan ongkos kampanye, konsolidasi tim, dan logistik politik yang tidak sedikit. Disisi lain, situasi ekonomi yang tidak selalu stabil, efisiensi seringkali terdengar rasional. Akan tetapi, demokrasi bukan sekadar tentang pengelolaan biaya pemilu. Demokrasi ialah mekanisme pelembagaan kedaulatan rakyat. Memberikan rakyat hak memilih pemimpin lokal secara langsung adalah bentuk pengakuan terhadap kedewasaan politik masyarakat dan sekaligus alat kontrol terhadap pemimpin yang menjabat. Ketika pemilihan dikembalikan ke DPRD, relasi akuntabilitas yang tadinya vertical dari rakyat ke pemimpin berpotensi berubah kembali menjadi relasi horizontal antar-elite.

Pasca reformasi, kita dihadapkan pada pengalaman yang menunjukkan bahwa Pilkada langsung telah membuka ruang kompetisi politik yang lebih terbuka. Ada kepala daerah yang lahir dari kalangan profesional, teknokrat, aktivis, hingga tokoh masyarakat biasa yang tidak memiliki latar belakang keluarga politik. Fenomena ini sulit terjadi dalam sistem pemilihan melalui DPRD, di mana kandidat harus memiliki akses terhadap struktur partai, jaringan elite, dan kemampuan bernegosiasi dalam ruang tertutup. Dengan kata lain, Pilkada langsung memperluas “panggung politik,” sementara Pilkada lewat DPRD justru berpotensi mempersempitnya. Pada sisi para pendukung gagasan Pilkada melalui DPRD juga sering berargumen bahwa model Pilkada langsung mendorong populisme dan politik uang. Argumen ini ada benarnya. Bahwa politik uang adalah penyakit serius dalam demokrasi elektoral kita. Namun yang perlu dipertanyakan, apakah politik uang hanya terjadi di Pilkada langsung? Nyatanya tidak. Justru transaksi politik antar-elite di ruang tertutup dapat jauh lebih sulit dideteksi publik. Transaksi dukungan atau “deal politik” di internal DPRD pun bisa terjadi tanpa pengetahuan masyarakat. Akibatnya, akuntabilitas publik semakin menurun dan transparansi semakin kabur.

Pertanyaan berikutnya yang sering mencuat benak kita, apakah Pilkada melalui DPRD menjamin stabilitas politik? Jawabannya juga tidak otomatis. Di banyak daerah, konflik internal partai dan perebutan kursi pimpinan daerah justru berpotensi memindahkan arena konflik dari masyarakat ke parlemen daerah. Demokrasi tidak diukur dari absennya konflik, tetapi dari kemampuan sistem menyelesaikan konflik tanpa kekerasan dan melalui mekanisme yang sah. Jika konflik sosial menjadi alasan, pendidikan politik dan tata kelola elektoral yang lebih baik seharusnya menjadi solusi, bukan membatasi partisipasi rakyat. Efisiensi memang penting. Namun apakah efisiensi dapat dijadikan alasan untuk mengurangi derajat kedaulatan rakyat? Demokrasi yang sehat tidak murah. Ia membutuhkan biaya sosial, politik, dan ekonomi. Namun yang lebih mahal adalah demokrasi yang dilemahkan karena ketika demokrasi dikurangi partisipasinya, yang membengkak justru biaya sosial di kemudian hari: ketidakpercayaan publik, meningkatnya politik oligarki, dan naiknya apati politik.

Dalam konteks demokrasi lokal, pemilihan kepala daerah memainkan fungsi strategis. Kepala daerah bukan hanya administrator, tetapi aktor politik yang menentukan wajah pelayanan publik, pembangunan daerah, dan nasib rakyatnya. Memberikan hak kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya adalah bentuk legitimasi langsung yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar persoalan fiskal. Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan sekadar “berapa biaya Pilkada”, tetapi “berapa nilai demokrasi untuk masa depan bangsa”. Menimbang semua itu, wacana mengembalikan Pilkada ke DPRD betapapun logis dari sudut pandang administrative berpotensi menjadi jalan mundur demokrasi. Demokrasi yang baik tidak hanya diukur dari efisiensi, tetapi dari keterlibatan, transparansi, kontrol publik, dan kesempatan yang adil bagi semua warga negara.

Konsekuensi ke Masa Depan: Demokrasi atau Oligarki?

Kembalinya Pilkada melalui DPRD memiliki implikasi yang jauh lebih serius daripada sekadar perubahan mekanisme elektoral. Secara institusional, kebijakan ini berpotensi mengonsolidasikan kekuasaan politik pada kalangan elite partai di daerah dan mengurangi ruang partisipasi warga dalam menentukan pemimpin lokal. Hal ini membuka peluang bagi oligarki politik untuk menguat dan mempersempit sirkulasi kekuasaan pada segelintir aktor. Kita merujuk dalam perspektif teori demokrasi elektoral, Joseph Schumpeter (1942) mendefinisikan demokrasi sebagai mekanisme kompetisi yang memberikan rakyat kesempatan untuk memilih pemimpinnya melalui prosedur pemilu yang terbuka dan kompetitif. Dengan mengalihkan pemilihan kepala daerah kepada DPRD, kompetisi tersebut berubah dari kompetisi berbasis rakyat (mass participation) menjadi kompetisi berbasis elite (elite bargaining). Di titik inilah, rakyat kehilangan peran sebagai “principal” dalam hubungan politik, sementara term “agent”dalam hal ini kepala daerah tidak lagi bertanggung jawab kepada rakyat tetapi kepada partai dan elite parlemen yang memilihnya.

Konsekuensi teori ini sejalan dengan peringatan Robert Michels dalam Iron Law of Oligarchy, bahwa organisasi politik pada akhirnya cenderung dikuasai elite kecil yang memiliki akses pada sumber daya strategis dan kontrol organisasi. Jika akses terhadap jabatan kepala daerah ditentukan di arena parlemen daerah, maka rekrutmen politik menjadi tertutup, hierarkis, dan berpotensi bersifat kartelis. Dalam kondisi ini, keberhasilan politik tidak lagi ditentukan oleh dukungan rakyat, melainkan oleh kemampuan bernegosiasi, bertransaksi, dan berafiliasi dengan elite partai, semua akan melebur dalam kepentingan pragmatism sesaat.

Bahkan lebih jauh, hasil penelitian empirik Jeffrey A. Winters (2011) dalam studi tentang oligarki di Indonesia menunjukkan bahwa oligarki bukan hanya soal kekayaan, tetapi juga soal penguasaan sumber daya politik dan institusional. Melalui Pilkada via DPRD, struktur politik daerah memberi peluang bagi oligarki untuk mengendalikan “pintu masuk kekuasaan” melalui mekanisme internal parlemen. Ruang transaksional di DPRD juga lebih eksklusif dan sulit diawasi publik, berbeda dengan Pilkada langsung yang lebih terbuka dan menyediakan kanal partisipasi rakyat serta ruang akuntabilitas elektoral. Dari sinilah kita bisa melihat dalam kerangka demokrasi procedural seperti yang dikemukakan Robert A. Dahl (1971) bahwa demokrasi (polyarchy) menuntut partisipasi inklusif, kompetisi, dan akses informasi. Kembalinya Pilkada ke DPRD membuat salah satu pilar demokrasi yakni partisipasi langsung menyusut drastis. Rakyat tidak lagi memiliki kontrol elektoral langsung untuk “menghukum” atau “menghadiahi” kepala daerah berdasarkan kinerja. Tanpa mekanisme umpan balik tersebut, akuntabilitas vertikal tergantikan oleh akuntabilitas horizontal antar-elite, yang dalam teori Guillermo O’Donnell (1994) seringkali menghasilkan delegative democracy yakni demokrasi yang berjalan secara prosedural tetapi minim kontrol rakyat.

Pada akhirnya, skenario pilkada lewat DPRD akan membawa kita pada pertanyaan reflektif, apakah masa depan demokrasi lokal di Indonesia akan bergerak menuju sistem yang lebih oligarkis dan tertutup? Ataukah kita tetap mempertahankan prinsip dasar bahwa kedaulatan politik berada di tangan rakyat sebagaimana dijamin konstitusi? Memindahkan kembali pemilihan kepala daerah ke DPRD mungkin terlihat efisien dari sisi fiskal, tetapi secara teoritis ia mendekatkan sistem politik pada oligarki elektoral, bukan demokrasi substansial. Sederhana, Demokrasi tanpa rakyat adalah demokrasi yang kehilangan ruhnya***

 

Penulis adalah Dosen Pada Program Studi Ilmu Politik FISIP USU, dan saat ini menjadi Pelajar Pada Program Doktor di ISDEV Universiti Sains Malaysia.

 

 

Previous Post

Tak Masuk RTRW dan RPJMD, Proyek Tol Gilimanuk–Mengwi Dilaporkan ke KPK

Next Post

Gianyar Gempar: Proyek Strategis “Siluman”, Pemkab Bungkam, Transparansi Dipertanyakan!

abed nego panjaitan

abed nego panjaitan

RelatedPosts

Polres Metro Bekasi Kota Gelar Jumpa Pers Guna Paparan Hasil Operasi Berantas Jaya Telah Ungkap 77 Kasus.!!
Kesehatan

Polres Metro Bekasi Kota Gelar Jumpa Pers Guna Paparan Hasil Operasi Berantas Jaya Telah Ungkap 77 Kasus.!!

22 Agustus 2026
Seni Mengkritik Penguasa: Menjaga Etika di Tengah Arus Transisi
Headline

Seni Mengkritik Penguasa: Menjaga Etika di Tengah Arus Transisi

13 April 2026
Negara Hukum Diuji: Perpol 10/2025 Dituding Langgar Konstitusi dan Hidupkan Dominasi Polisi di Jabatan Sipil
Politik

Negara Hukum Diuji: Perpol 10/2025 Dituding Langgar Konstitusi dan Hidupkan Dominasi Polisi di Jabatan Sipil

22 Desember 2025
Ketua Umum GCP: Sah-Sah Saja Projo Bergabung ke Gerindra, Tapi Jangan Jadi Tamu yang Ingin Intervensi Tuan Rumah
Politik

Ketua Umum GCP: Sah-Sah Saja Projo Bergabung ke Gerindra, Tapi Jangan Jadi Tamu yang Ingin Intervensi Tuan Rumah

4 November 2025
Bahlil Lahaladia Menteri Terburuk Versi Celios, SOKSI: Kredibilitas Politik Partai Golkar Tercederai?
Politik

Bahlil Lahaladia Menteri Terburuk Versi Celios, SOKSI: Kredibilitas Politik Partai Golkar Tercederai?

29 Oktober 2025
Reshuffle Lanjutan: Jalan Tegas Menjawab Paradoks Indonesia
Politik

Reshuffle Lanjutan: Jalan Tegas Menjawab Paradoks Indonesia

22 Oktober 2025
Next Post
Gianyar Gempar: Proyek Strategis “Siluman”, Pemkab Bungkam, Transparansi Dipertanyakan!

Gianyar Gempar: Proyek Strategis "Siluman", Pemkab Bungkam, Transparansi Dipertanyakan!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Sejarah Lahirnya Tahlilan Dalam Upacara Kematian, Khususnya Di Tanah Jawa, Indonesia

Sejarah Lahirnya Tahlilan Dalam Upacara Kematian, Khususnya Di Tanah Jawa, Indonesia

23 Februari 2021
SBSI 1992 Minta Jokowi Berikan Pekerjaan Pengganti 514 Korda dan 7.230 Pendamping BSP Kemensos yang Kehilangan Pekerjaan

SBSI 1992 Minta Jokowi Berikan Pekerjaan Pengganti 514 Korda dan 7.230 Pendamping BSP Kemensos yang Kehilangan Pekerjaan

7 Januari 2022
Ditjen PFM Dihapus, Komisi VIII Berjanji Akan Tindaklanjuti Aspirasi Korda dan Pendamping Kecamatan

Ditjen PFM Dihapus, Komisi VIII Berjanji Akan Tindaklanjuti Aspirasi Korda dan Pendamping Kecamatan

18 Januari 2022
RUU Pertanahan Yang Baru, Hak Milik Dicabut Jika Tanah Tak Dipakai

RUU Pertanahan Yang Baru, Hak Milik Dicabut Jika Tanah Tak Dipakai

7 Agustus 2020
Atasi Krisis Air Bersih, Tapanuli Utara Butuh Dana Rp 60 Miliar

Atasi Krisis Air Bersih, Tapanuli Utara Butuh Dana Rp 60 Miliar

0
Mikie Funland Beroperasi Kembali Dengan Protokol New Normal

Mikie Funland Beroperasi Kembali Dengan Protokol New Normal

0
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan yang juga Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menjawab pertanyaan saat wawancara di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (18/6/2020)

Yurianto yang Dijuluki “Pembawa Berita Kematian” karena Sampaikan Data Covid-19

0
Konimex Dukung Masyarakat Siapkan Diri Hadapi Pandemi & New Normal

Konimex Dukung Masyarakat Siapkan Diri Hadapi Pandemi & New Normal

0
Seret Oknum ke Propam hingga Puspom TNI, Pelapor Siap Bongkar Praktik Culas ‘Uang Jalan’ BBM Ilegal

Seret Oknum ke Propam hingga Puspom TNI, Pelapor Siap Bongkar Praktik Culas ‘Uang Jalan’ BBM Ilegal

19 Juli 2026
Polres Metro Bekasi Kota Gelar Jumpa Pers Guna Paparan Hasil Operasi Berantas Jaya Telah Ungkap 77 Kasus.!!

Polres Metro Bekasi Kota Gelar Jumpa Pers Guna Paparan Hasil Operasi Berantas Jaya Telah Ungkap 77 Kasus.!!

22 Agustus 2026
Ketum SOKSI: Momentum Presiden Prabowo Memimpin Reformasi Nasional untuk Mengakhiri Paradoks Indonesia

Ketum SOKSI: Momentum Presiden Prabowo Memimpin Reformasi Nasional untuk Mengakhiri Paradoks Indonesia

17 Juli 2026
Bisnis Berkedok ‘Home SPA’ Berjamur di Sentra Kota Wisata

Bisnis Berkedok ‘Home SPA’ Berjamur di Sentra Kota Wisata

22 Agustus 2026

Recent News

Seret Oknum ke Propam hingga Puspom TNI, Pelapor Siap Bongkar Praktik Culas ‘Uang Jalan’ BBM Ilegal

Seret Oknum ke Propam hingga Puspom TNI, Pelapor Siap Bongkar Praktik Culas ‘Uang Jalan’ BBM Ilegal

19 Juli 2026
Polres Metro Bekasi Kota Gelar Jumpa Pers Guna Paparan Hasil Operasi Berantas Jaya Telah Ungkap 77 Kasus.!!

Polres Metro Bekasi Kota Gelar Jumpa Pers Guna Paparan Hasil Operasi Berantas Jaya Telah Ungkap 77 Kasus.!!

22 Agustus 2026
Ketum SOKSI: Momentum Presiden Prabowo Memimpin Reformasi Nasional untuk Mengakhiri Paradoks Indonesia

Ketum SOKSI: Momentum Presiden Prabowo Memimpin Reformasi Nasional untuk Mengakhiri Paradoks Indonesia

17 Juli 2026
Bisnis Berkedok ‘Home SPA’ Berjamur di Sentra Kota Wisata

Bisnis Berkedok ‘Home SPA’ Berjamur di Sentra Kota Wisata

22 Agustus 2026
peristiwaindonesia.com

Penerbit :
PT Rajawali Sukmajaya Pers
SK MENKUMHAM Nomor: AHU-41733.40.10.2014
SIUP Nomor: 2472/2306/1.1/0904/08/2017

Follow Us

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

©2008 www.peristiwaindonesia.com "Mandiri Terpercaya dan Profesional"

No Result
View All Result

©2008 www.peristiwaindonesia.com "Mandiri Terpercaya dan Profesional"

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In