Home / Pariwisata

Rabu, 25 November 2020 - 10:04 WIB

‘New Normal Dolan Kampung Wisata,’ Terobosan Dongkrak Wisatawan Yogyakarta

Penulis: Agus Susanto

Yogyakarta, PERISTIWAINDONESIA.com |

Terhitung delapan bulan terakhir ini kehidupan pariwisata di DI Yogyakarta dari mulai hotel, transport dan objek wisata semuanya sepi pengunjung, dan tidak terkecuali mereka yang hidupnya tergantung pada tamu asing alias guide sangat merasakan sunyi dan senyap geliat pariwisata.

Apalagi beberapa negara Eropa masih memberlakukan lockdown, Indonesia hampir tidak bisa apa-apa. Begitulah luar biasanya pengaruh pandemi Covid-19 ini, hingga meluluhlantakkan perekonomian Kepariwisataan di Yogja ini.

Hampir semua hotel sepi, walaupun telah berlaku long week end, tetapi belum mampu mengembalikan geliat pariwisata seperti sebelumnya, ahkan sejumlah hotel terpaksa dijual karena minus operationalnya.

Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Yogyakarta tidak tinggal diam dalam mengatasi pandemi ini. Karena itu diadakan program New Normal Dolan Kampung Wisata yang di dukung oleh beberapa Asosiasi misalnya, PHRI, ASITA, HPI dan komunitas Dimas Diajeng yaitu dengan mengunjungi kampung wisata yang ada di kota Yogjakarta.

Terobosan ini ternyata mampu memberikan hiburan kepada para pelaku wisata yang ada di Yogja. Dalam catatan penulis sekitar 17 kampung wisata di Yogja menyuguhkan beraneka macam khas Desa masing-masing.

Bagi desa yang memiliki peninggalan masa lampau terbilang unggul, misalnya Tamansari, Dipowinatan, Pakualaman, Warungboto, dll.

Namun bagi Desa yang tidak memiliki Heritage akan berupaya menunjukkan ke khas-an desanya dengan kesenian, senam aerobik, yang walaupun terkesan mengada-ada.

Sebanyak 17 kampung wisata berarti 17 aneka ragam corak wisatanya disana, seolah-olah mulai berbenah menyambut tamu asing maupun lokal setelah covid ini berlalu. Perkiraan penulis seperti itu dan memohon pada Tuhan agar covid ini segera berlalu.

Maka untuk mengisi kekosongan kunjungan tourist ke Yogja, semua pelaku wisata bekerja sama, bahu-membahu mempersiapkan kunjungan di kampungnya masing-masing. Apa saja jenis Budayanya bisa kita tunjukkan ke wisatawan. Misalnya, pengajian, masak secara tradisional, bermain dan berlatih gamelan di luar kunjungan home industry, kalau ada.

Penataan, pengembangan dan pembinaan kampung di kota harus bertahap dan secara terus menerus, sehingga nantinya wisatawan tidak hanya berkunjung secara konvensional tetapi sudah mulai jalan-jalan ke kampung bahkan menginap disana sambil membaur dengan penduduk local.

Dan ujung-ujungnya pasti akan meningkatkan ekonomi di desa wisata sekitar kota, sehingga akan dapat menjadi proyek percontohanbagi desa lain di luar Yogyakarta (*)

Share :

Baca Juga

Industri

Teater Musikal Keumalahayati – Laskar Inong Balee, Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, 12 dan 13 Agustus 2023

Pariwisata

Wahana Outbond Sepeda Terbang Pertama Kali di Tanah Papua

Hukum

Diduga Tidak Bisa Penuhi Syarat Surat Keterangan Lahir Dari PN Ketapang, Walau Sudah Mengantongi Akta Kelahiran, Penggugat Berencana Cabut Gugatan

Ekonomi

Pemkab Lamsel Dukung Penuh Pengembangan Kawasan Bakauheni Harbour City

Headline

Luhut Panjaitan: “Berkat” Satu Kata Untuk Tanah Toba

Pariwisata

Untuk Percepatan Pembangunan Desa Budaya dan Pariwisata, Lurah Pleret Bantul Tinjau Situs Keraton Kerto Pleret

Pariwisata

Kapolres Simalungun Sambut Kedatangan Menko Kemaritiman dan Investasi

Hukum

Lapor Pak Kapolri Dan Pak Kapolda Kalbar Penambang Emas Tanpa Izin ( PETI )Kembali Marak Di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat.