• Rab. Feb 28th, 2024

‘New Normal Dolan Kampung Wisata,’ Terobosan Dongkrak Wisatawan Yogyakarta

Byabed nego panjaitan

Nov 25, 2020

Penulis: Agus Susanto

Yogyakarta, PERISTIWAINDONESIA.com |

Terhitung delapan bulan terakhir ini kehidupan pariwisata di DI Yogyakarta dari mulai hotel, transport dan objek wisata semuanya sepi pengunjung, dan tidak terkecuali mereka yang hidupnya tergantung pada tamu asing alias guide sangat merasakan sunyi dan senyap geliat pariwisata.

Apalagi beberapa negara Eropa masih memberlakukan lockdown, Indonesia hampir tidak bisa apa-apa. Begitulah luar biasanya pengaruh pandemi Covid-19 ini, hingga meluluhlantakkan perekonomian Kepariwisataan di Yogja ini.

Hampir semua hotel sepi, walaupun telah berlaku long week end, tetapi belum mampu mengembalikan geliat pariwisata seperti sebelumnya, ahkan sejumlah hotel terpaksa dijual karena minus operationalnya.

Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Yogyakarta tidak tinggal diam dalam mengatasi pandemi ini. Karena itu diadakan program New Normal Dolan Kampung Wisata yang di dukung oleh beberapa Asosiasi misalnya, PHRI, ASITA, HPI dan komunitas Dimas Diajeng yaitu dengan mengunjungi kampung wisata yang ada di kota Yogjakarta.

Terobosan ini ternyata mampu memberikan hiburan kepada para pelaku wisata yang ada di Yogja. Dalam catatan penulis sekitar 17 kampung wisata di Yogja menyuguhkan beraneka macam khas Desa masing-masing.

Bagi desa yang memiliki peninggalan masa lampau terbilang unggul, misalnya Tamansari, Dipowinatan, Pakualaman, Warungboto, dll.

Namun bagi Desa yang tidak memiliki Heritage akan berupaya menunjukkan ke khas-an desanya dengan kesenian, senam aerobik, yang walaupun terkesan mengada-ada.

Sebanyak 17 kampung wisata berarti 17 aneka ragam corak wisatanya disana, seolah-olah mulai berbenah menyambut tamu asing maupun lokal setelah covid ini berlalu. Perkiraan penulis seperti itu dan memohon pada Tuhan agar covid ini segera berlalu.

Maka untuk mengisi kekosongan kunjungan tourist ke Yogja, semua pelaku wisata bekerja sama, bahu-membahu mempersiapkan kunjungan di kampungnya masing-masing. Apa saja jenis Budayanya bisa kita tunjukkan ke wisatawan. Misalnya, pengajian, masak secara tradisional, bermain dan berlatih gamelan di luar kunjungan home industry, kalau ada.

Penataan, pengembangan dan pembinaan kampung di kota harus bertahap dan secara terus menerus, sehingga nantinya wisatawan tidak hanya berkunjung secara konvensional tetapi sudah mulai jalan-jalan ke kampung bahkan menginap disana sambil membaur dengan penduduk local.

Dan ujung-ujungnya pasti akan meningkatkan ekonomi di desa wisata sekitar kota, sehingga akan dapat menjadi proyek percontohanbagi desa lain di luar Yogyakarta (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *