• Sab. Feb 24th, 2024

Mahasiswa Katholik Sebagai Agen Perubahan Membangun Kesadaran Diri Sesuai Spiritualitas Laudato SI

Byabed nego panjaitan

Des 8, 2020

Penulis: Agus Susanto

Bandung, PERISTIWAINDONESIA.com |

Sebanyak 23 orang mahasiswa/i Katholik yang tergabung dalam keluarga Mahasiswa Katholik dari Perguruan Tinggi Umum Paroki Salib Suci Purwakarta, Keuskupan Agung Bandung dan Guru dari AKPK Pendidikan agama Katholik mengadakan acara Gladi Rohani, Minggu (6/12/2020) di Eco Camp di jalan Juanda, Cibural, kecamatan Cimenyan, Bandung.

Turut juga Mahasiswa/i dari luar Propinsi (Kalimantan, Sumatera Utara, Jakarta) melalui join zoom meeting eco camp sahabat lingkungan.

Acara di mulai pukul 06.00 WIB pagi hingga 21.00 WIB, dengan mematuhi protokol kesehatan, menghindari kerumunan, menjaga jarak, memakai masker dan selalu mencuci tangan.

Acara dibuat singkat dan padat, namun dapat memberikan wawasan yang luas kepada Mahasiswa dan peka terhadap permasalahan sosial di sekitar.

Mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu sebagai penggerak untuk perubahan mental yang lebih baik, akhirnya akan tersadar kalau hidup itu adalah belajar sampai Tuhan menghentikan langkah kita di dunia ini.

Dari Binmas Katholik Provinsi Jawa Barat mengharapkan orang muda Katholik berani memerangi hoax di Media massa yang semakin lama semakin kurang ajar. Maka itu dituntut memiliki filter yang tajam untuk menerima atau menolak kabar yang ada di media massa.

Juga di sampaikan oleh Pebimmas Prov Jawa Barat untuk menjauhi Narkoba, yang intinya berhati-hatilah dalam bergaul .

Pastor FX Franki juga mengajak agar jangan takut jatuh cinta, berani menyadari panggilan sebagai agen perubahan, menyadari diri (100% katholik, 100% Indonesia) dan mencintai lingkungan hidup dan semakin terlibat ramah lingkungan.

Tidak kalah menarik materi keluarga Katholik yang disampaikan oleh Romo Franki, untuk tetap setia dalam panggilannya dan terlibat aktif dan militan.

Ketua Panitia Yohanes Babtista S SPd mengatakan dengan dipilihnya yang sesuai Laudato SI, anak-anak muda diajak menjawab pesan dengan keadilan ekologis, keadilan sosial, ekonomi, perubahan struktural, gaya hidup, transformasi pendidikan, spiritualitas dengan mendasarkan diri pada semangat partisipatif dan roh komunitas.

Laudato SI

AdapunĀ  tujuan pokok Laudato SI, terdiri dari jawaban tangisan bumi yang berfokus pada upaya mengatasi krisis lingkungan dan mengupayakan perkembangan hidup bersama berkelanjutan.

Dicastery mendorong penggunaan lebih banyak energi bersih terbarukan dan mengurangi bahan bakar fosil untuk mencapai karbon netral dan usaha 2x untuk melindungi keanekaragaman hayati, ketersediaan air bersih bagi semua makhluk hidup.

Jawaban atas tangisan mereka yang miskin, mencakup langkah-langkah serius untuk pembelaan kehidupan manusia mulai konsepsi hingga akhir hayatnya dan segenap bentuk kehidupan dimuka bumi, dengan perhatian khusus dengan perhatian pada kelompok rentan, misalnya migran, perbudakan anak, masyarakat adat dll.

Dicastery melihat problem utama dari peradaban manusia kontemporer yang tidak ramah lingkungan adalah di anutnya ekonomi yang menjadikan eksploitasi dan dominasi manusia atas alam sebagai prinsipnya.

Model ekonomi ini harus diubah melalui penulisan kembali model-model bisnis yang lebih lestari dan menghormati kehidupan.

Penerapan gaya hidup sederhana, seluruh gereja dan masyarakat didorong untuk mampu membangun hidup sederhana, di antaranya dengan mengurangi penggunaan sumber daya energi dari fosil, menerapkan makan nabati, kurangi konsumsi daging, lebih banyak menggunakan transportasi umum dan menghindari moda transportasi yang mencemari dsb.

Mulai sekarang kita mendidik anak anak kita dengan pendidikan ekologis yang menjadi dasar umat manusia.

Tidak hanya mendidik unggul dalam teknologi tapi perlu juga pengaturan secara emosional dalam arti dengan hati yang bening dan takut akan Tuhan, yang penting mampu mengembangkan hidup berkualitas bersama-sama alam lingkungannya.

Kehidupan Manusia Harus Dikembalikan Pada Kesatuan Organiknya Pada Alam

Untuk itu di perlukan kurikulum yang membumi dan reformasi lembaga pendidikan dalam semangat ekologis untuk menciptakan kesadaran dan tidakan ekologis, misalnya sekolah alam agar mendapatkan panggilan ekologis, kaum muda, guru, Dosen, pemimpin pendidikan, pemuka masyarakat dan pemuka agama.

Spiritualitas ekologis, alam harus dipulihkan sebagai sesama yang membawa wajah Allah di segenap aspek kehidupan dan tendensi hegemoni manusia sebagai puncak piramida harus diubah menjadi ekosistim cinta kasih dari semua ciptaan-Nya.

Untuk itu perlu memulihkan visi religius dari ciptaan Allah, mendorong hubungan yang lebih besar dengan alam dalam semangat keajaiban, pujian, kegembiraan dan rasa syukur, mengembangkan ajaran iman (katekese), doa, retret, formasi ekologis dll.

Untuk itu partisipasi dan inisiatif warga harus menjadi landasan dasar dari bangunan ekonomi integral.

Berangkat dari pemikiran tsb perlu adanya kegiatan Gladi rohani katholik untuk membangun semangat komunitas murid-murid kristus dan pengembangan dalam proses pembinaan rohani.

Cita cita MGR Soegiyopranoto dalam bukunya 100% katholik, 100% Indonesia masih tertanam di benak orang muda Katholik, namun tetap pada semangat Laudato sio. Terima kasih Berkah dalem (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *