• Kam. Apr 25th, 2024

Merenda Toleransi = Merenda Kasih

Byabed nego panjaitan

Des 14, 2020

Penulis: Agus Susanto

Yogayakarta, PERISTIWAINDONESIA.com |

Dengan di tangkapnya tokoh bom Bali I di Lampung Zulkarnain, yang sudah 18 tahun melarikan diri dan sudah berganti nama dan berpindah-pindah tempat membuktikan Pemerintah serius dalam memerangi kelompok radikal dan mulai menggiatkan kegiatan yang bersifat Lintas Iman.

Kita melihat usaha Pemerintah dalam meredam kelompok Radikal sudah 6 Ormas yang dihapus dari Negara RI, (HTI, FPI, ANNAS( Aliansi Nasional Anti Syiah), JAT (Jamaah Ansarut Tauhid), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), FUI (Forum Umat Islam)).

Ormas-ormas ini bertentangan dengan Pancasila dan tidak menjunjung perdamaian dan toleransi, malah menimbulkan perpecahan, seolah-olah mau memindahkan konflik yang ada di Timur Tengah ke Indonesia.

Ormas ormas Radikal ini tentu melakukan kaderisasi secara radikal.

Mengutip pernyataan Ketua PB NU Said Agil Siraidj bahwa pembiaran radikalisme akan menumbuh suburkan gerakan Terorisme, maka bibit-bibit terorisme harus diberantas sejak dini tanpa pandang bulu.

Saya yakin Pemerintah tidak grusak-grusuk dalam menangani kelompok radikaslisme, yakin bisa diatasi.

Budaya nenek moyang kita, bergotong-royong tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan. Membantu tetangga yang memiliki hajat, manten, mitoni atau sekedar pamitan anaknya keluar negeri dll, mengundang banyak tetangga untuk berkumpul tanpa melihat status.

Hal-hal ini yang mulai terusik keberadaannya karena adanya pandangan suku, agama, ras, golongan.

Budaya toleransi yang memiliki makna saling mengerti, menerima dan memahami, sikap kebersamaan dalam menjalankan kehidupan yang beraneka ragam.

Sehingga memunculkan sikap saling menerima, memahami, keterbukaan dan saling mengasihi.

Masyarakat Indonesia yang beraneka ragam (suku, agama, ras, golongan), sejak dulu sudah tertanam makna toleransinya.

Pasti akan terwujud dari pola masyarakat Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika bersama bergandengan tangan membangun kehidupan dalam bingkai Indonesia sesuai Pancasila.

Jiwa Nasionalisme yang religius memampukan kehidupan masyarakat Indonesia untuk saling menerima membangun kebersamaan dalam kegiatan sosial, agama, budaya, pola inilah yang harus menjadi dasar dalam kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia yang toleran.

Kita sebagai pribadi manusia yang saya sebutkan tadi sebagai pohon kehidupan Indonesia, sebab kita adalah pohon besar Indonesia yang memiliki buah betsam tetapi ada yang buah rasa,manis, asam, pahit bahkan busuk.

Dan ada juga pohon yang daunnya tumbuh lebat, lebar dan berbunga dan dahan yang punya peran dan fungsi yang berbeda tetapi tetap satu kesatuan menjadikan pohon tumbuh berbuah subur dan besar, bermanfaat bagi masyarakat Indonesia menjadi dasar dan pola hidup menjadikan kita Bangsa yang besar dalam jutaan keragaman satu dalam pohon kehidupan Bangsa yang besar dan dapat menjadi teladan semua unsur kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Salam Toleransi (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *